Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada Kemdikbud melalui BPKLN, Bapak Abe Susanto sebagai Koordinator Program Beasiswa Unggulan dan juga STP Sahid Jakarta yang memberikan kesempatan ini, khususnya kepada Bapak Kusmayadi, Ibu Nenny Wahyuni, Bapak Asep Parantika dan Bapak Teguh Tri Utomo yang telah membantu persiapan keberangkatan. Yang terakhir kepada CCF dan Campus France yang telah membantu pembekalan bahasa dan budaya Perancis melalui program-program yang telah mereka berikan.

Selasa, 09 April 2013

Tugas ke-3 Ekonomi Pariwisata


Pertanyaan:
1.   Terdapat 2 (dua) buah Negara bertetangga yang pertama adalah Negara Astina dan Negara Amarta. Negara Astina memiliki jumlah penduduk 14.500.000 jiwa sedangkan Negara Amarta memiliki jumlah penduduk 9.700.000 jiwa. Penduduk Negara Astina yang melakukan perjalanan wisata minimal 1 (satu) kali berjumlah 1.150.000 orang; penduduk yang melakukan perjalanan wisata 2 (dua) kali berjumlah 475.000 orang; penduduk yang melakukan perjalanan wisata 3 (tiga) kali berjumlah 185.000. Penduduk Amarta yang melakukan perjalanan wisata minimal 1 (satu) kali berjumlah 675.000 orang; penduduk yang melakukan perjalanan wisata 2 (dua) kali berjumlah 355.000 orang; penduduk yang melakukan perjalanan wisata 3 (tiga) kali berjumlah 193.000. Adapun yang harus anda analisis adalah negara mana yang menurut anda paling besar kemampuan sebagai negara asal wisatawan, sebutkan alasan-alasan anda dalam menarik kesimpulan yang telah anda berikan ?

A. Negara Astina
N
F
T
1.150.000 orang
1 X perjalanan
1.150.000 perjalanan
475.000 orang
2 X perjalanan
950.000 perjalanan
185.000 orang
3 X perjalanan
555.000 perjalanan
Total = 1.810.000 orang

2.655.000 perjalanan

Penghitungan Kecenderungan Perjalanan Negara Astina:
P = 14. 500.000 orang
N = 1.810.000 orang
T = 2.655.000 perjalanan

Penghitungan Kecenderungan Perjalanan Bersih dapat diketahui :
NTP = N/P x 100%
           1.810.000/14.500.000
           12,48 %

Penghitungan Kecenderungan Perjalanan Kotor dapat diketahui :
GTP = T/P x 100%
           2.655.000/14.500.000
           18,31 %

Frekuensi Perjalanan yaitu sebesar :
TF = GTP/ NTP = 18,31/12.48 = 1,47 kali = 1 kali
Atau
TF = T/N = 2.655.000/1.810.000 = 1,47 kali = 1 kali


B. Negara Amarta
N
F
T
675.000 orang
1 X perjalanan
675.000 perjalanan
355.000 orang
2 X perjalanan
710.000 perjalanan
193.000 orang
3 X perjalanan
579.000 perjalanan
Total = 1.223.000 orang

1.964.000 perjalanan

Penghitungan Kecenderungan Perjalanan Negara Astina:
P = 9.700.000 orang
N = 1.223.000 orang
T = 1.964.000 perjalanan

Penghitungan Kecenderungan Perjalanan Bersih dapat diketahui :
NTP = N/P x 100%
           1.223.000/9.700.000
           12,61 %

Penghitungan Kecenderungan Perjalanan Kotor dapat diketahui :
GTP = T/P x 100%
           1.964.000/9.700.000
           20,25 %

Frekuensi Perjalanan yaitu sebesar :
TF = GTP/ NTP = 20,25/12,61 = 1,60 kali = 2 kali
Atau
TF = T/N = 1.964.000/1.223.000 = 1,60 kali = 2 kali

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, dapat kita kaji mengenai kecenderungan warga negara Astina dan Amarta dalam melakukan perjalanan wisata. jika di lihat dari presentase NTP negara Astina lebih rendah dengan nilai 12.48% dibandingkan dengan negara Amarta yang sebesar 12.61% Namun mengingat jumlah populasi  antara kedua negara tersebut memiliki perbedaan maka saya mencoba menghitung jumlah warga negara antar negara tersebut. berdasarkan hasil penghitungan tersebut warga negara Astina lah yang ternyata   lebih banyak melakukan perjalanan yaitu sebesar 1.809.600 orang sedangkan Amarta hanya 1.223.170 orang. Dengan demikian saya menyimpulkan bahwa dalam hal ini warga negara Astina lah yang lebih banyak melakukan perjalan wisata.
Sedangkan untuk GTP warga negara Amarta memiliki kecenderungan atau kemampuan yang lebih besar dalam melakukan perjalanan wisata dibandingkan dengan negara Astina, namun hal tersebut mungkin dikarenakan suatu hal sehingga menhambat warga negara Amarta untuk melakukan perjalanan wisata.
Dan untuk frekuensi perjalanan wisata yang di lakukan kedua negara tersebut Amarta memiliki nilai yang lebih tinggi yaitu sebesar 2 kali di bandingkan dengan Astina yang hanya sebesar 1 kali dalam pertahunnya.

2.      Sebutkan apa saja sifat-sifat dari kecenderungan perjalanan?
Pada kenyataannya Kecenderungan Perjalanan Bersih (NTP) tidak akan pernah mencapai 100%. Biasanya nilai Kecenderungan Perjalanan Bersih tertinggi hanya akan mencapai antara 70% - 80%.Hal ini terjadi karena tidak selalu semua penduduk dapat melakukan perjalanan wisata walaupun secara materi tidak ada permasalahan.
Sebab-sebab yang menghalangi kondisi tersebut :
·         Kesehatan yang tidak memungkinkan melakukan perjalanan
·         Tidak cukup uang
·         Terbatasnya waktu
·         Terjadi kecelakaan dan musibah; dan lainnya. 
Namun besarnya nilai Kecenderungan Perjalanan Kotor (GTP)dapat saja mencapai lebih dari 100%. Bahkan tidak jarang terdapat negara-negara yang memiliki nilai Kecenderungan Perjalanan Kotor mencapai di atas 200%.
Kecenderungan Perjalanan yang Tinggi disebabkan oleh :
·         Pendapatan penduduk yang besar
·         Tingkat profesionalisme masyarakat (Wiraswasta, Direktur, Karyawan tingkat tinggi, dll)
·         Penduduk kota-kota besar
·         Kelompok usia antara 20-45 tahun
·         Kelompok keluarga kecil dan keluarga-keluarga yang memiliki anak-anak usia sekolah.
·         Tingkat pendidikan penduduk yang tinggi
 Kecenderungan Perjalanan yang Rendah disebabkan oleh :
·         Pendapatan penduduk yang kecil
·         Pekerjaan penduduk seperti Petani, Buruh dan Pensiunan
·         Anak-anak kecil dan orang-orang diatas 75 tahun.
·         Para penghuni desa yang penduduknya kurang dari 2.000 orang
·         Anggota keluarga besar (>5 orang)

3.    Berikan contoh dari produk jasa kepariwisataan yang berada pada kondisi elastis,elastisitas murni dan tidak elastis.Berikan alasan mengenai apa yang anda sebutkan tersebut ? 

Kondisi Elastis
Kondisi elastisitas ini tidak memperlihatkan perubahan permintaan atas produk atau jasa pariwisata apabila harga produk pariwisata tersebut terjadi peningkatan. Umumnya dialami oleh para wisatawan yang melakukan perjalanan tanpa biaya sendiri. Peningkatan harga akan diikuti dengan sendirinya namun masih dalam batas-batas tertentu.
Contoh kondisi elastis dari produk jasa kepariwisataan seperti seorang karyawan yang mendapatkan hadiah keluar negeri karena memenangkan Employee  Of  The Year, sehingga karyawan tersebut melakukan perjalanan wisata keluar negeri. Dan perjalanan wisata tersebut dibayarkan oleh perusahaannya. Sehingga karyawan yang melakukan perjalanan wisata tidak perlu mengeluarkan biaya sendiri Karena semua perjalanannya sudah dibayarkan oleh perusahaan.

Kondisi Elastisitas Murni 
Pada kondisi ini permintaan akan produk atau jasa pariwisata benar-benar kenyal atau elastis. Peningkatan harga akan diikuti dengan sendirinya tanpa batas-batas tertentu.
Contoh dari kondisi elastis murni yaitu Kenaikan Kurs Dolar. Kenaikan Kurs Dolar dapat mempengaruhi harga dari produk-produk jasa pariwisata.Jika nilai dolar meningkat tentu saja akan mempengaruhi nilai mata uang suatu negara. Banyak negara yang mengalami penurunan nilai mata uang. Tentu saja hal itu juga akan berdampak terhadap produk-produk jasa pariwisata yang akan menaikan harga dengan sendirinya jika suatu produk tersebut bergantung terhadap kurs dolar.

 Kondisi Tidak Elastis
Jika seseorang sudah merencanakan untuk melakukan perjalan wisata dan memutuskan untuk menginap disuatu  hotel yang diidamkannya, tentu saja orang tersebut sudah mengestimasi pengeluaran yang akan dia keluarkan untuk biaya menginap tersebut, namun saat waktu yang telah di tentukan ternyata kondisi hotel sedang High Season yang mengakaibatkan harga per kamar hotel tersebut menjadi naik 2kali lipat. Mengingat akan estimasi biaya yang telah di perkirakan jauh dari harapannya, maka dalam perjalanan wisatanya orang tersebut memutuskan untuk menginap di hotel lain yang harganya lebih murah dan tidak jauh dari estimasi biaya yang telah di perhitungkan.

Rabu, 03 April 2013

Studi Kasus: Club Mediteranian, Manfaat Ekonomi Bagi Negara Maju dan Negara Berkembang



Apakah manfaat dan masalah ekonomi yang ditimbulkan dari Club Med terhadap :
a. Negara dengan perekonomian maju (Seperti Italia dan Amerika Serikat)?
b. Negara dengan perekonomian sedang berkembang
Jawaban:
a.    Negara – Negara maju seperti Amerika & Italia cukup  merasakan manfaat dari pembangunan Club Med Village walaupun mereka memiliki sumber pendapatan disektor lain yang lebih besar manfaatnya seperti  Gas dan Minyak, Pertambangan, Teknologi, dll. Mereka lebih mempunyai segmen pasar yang jelas dibandingkan dengan negara – negara berkembang, karena pendapatan perkapitanya yang besar sehingga menimbulkan penduduk kelas ekonomi menengah keatas yang tentunya lebih banyak dari negara berkembang. Penduduk kelas ekonomi menengah ke atas inilah yang menjadi segmen pasar dari Club Med. Negara – negara maju memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya pariwisata bagi perkembangan ekonominya seperti pembangunan Club Med di Desa – desa yang memiliki daya tarik wisata yang indah dan mengeskplornya dengan konsep yang mereka miliki sehingga membuat lebih menarik untuk dikunjungi dan juga menciptakan lapangan pekerjaan baru. Manfaat langsung yang paling dirasakan terjadi di akomodasi, Resataurant, Trasnportasi, hiburan dan retail (pedagang Eceran). Masalah Ekonomi yang ditimbulkan adalah harga saing yang terlalu mahal meskipun memiliki masyarakat menengah ke atas yang besar karena sulit untuk mepertahankan tingkat wisatawann. Seperti yang trjadi pada akhir tahun 1990an dimana perusahaan Cub Med mengalami krisis keuangan.
b.   Club Med dalam negara perekonomian berkembang bisa meningkatkan pertumbuhan pariwisata. Dan dapat memanfaatkan Club Med ini untuk memperkenalkan budaya budaya yang terkandung di negara tersebut dan bisa membuat  negara tersebut menjadi terkenal dari sebelumnya. Masalah ekonomi yang ditimbulkan dari Club Med terhadap Negara dengan perekonomian sedang berkembang: yaitu rata rata para pengunjung hanya yang berasal dari golongan perekonomian yang tinggi karna Club Med memiliki harga yang cukup mahal untuk atau bagi negara berkembang ini. Club Med juga menetapkan standard-standar, produk serta mengendalikan pemasaran dan harga yang relatif tinggi.

Selasa, 02 April 2013

Tugas Ekonomi Pariwisata 2

1. Buatlah suatu diagram atau gambar yang memperlihatkan bagaimana devisa dari sector pariwisata mengalir masuk dan keluar dari sebuah negara.


2.    Buatlah sebuah diagram atau gambar yang memperlihatkan pola pengeluaran wisatawan disuatu daerah tujuan wisata untuk komponen-komponen:
a. transportasi
b. cinderamata
c. makan dan minum
d. tour

3.      Apabila seorang wisatawan mengeluarkan biaya makan dan minum sebesar Rp. 5000 per hari, sementara ia berada di daerah tujuan wisata tersebut selama 5 hari, sedangkan pengusaha makan dan minum mengeluarkan biaya Rp. 3350 untuk keperluan lainnya, pada tingkat selanjutnya dikeluarkan biaya lanjutan Rp. 2150 yang mengakibatkan timbulnya pengeluaran ikutan Rp. 1475. Berapakah efek berganda yang ditimbulkan oleh pengeluaran wisatawan didaerah tujan wisata tersebut, dari kegiatan makan dan minum tersebut?
a.      K = Y/E
K = (25000 + 3350 + 2150 +1475) / 25000
K = 1.28 x = 1.3 x
b.      M = (DS + IS + Ids) / DS
M = (3350 + 2150 + 1475) / 3350
M = 2.08 x
c.       M = (DS + IS + Ids) / E
M = (3350 + 2150 + 1475) /25000
M = 0.28 x

Senin, 25 Maret 2013

Tugas Ekonomi Pariwisata I


1.    Apa saja komponen-komponen Neraca Pembayaran?
Necara pembayaran terdiri dari beberapa komponen, yaitu neraca barang (neraca perdagangan) dan neraca jasa. Keduanya disebut neraca transaksi berjalan (current account) dan neraca modal.
a.    Neraca Barang (Neraca Perdagangan)
Neraca barang dan neraca jasa disebut juga neraca transaksi berjalan (current account). Pos ini merupakan golongan terbesar dalam neraca pembayaran, yang meliputi transaksi barang. Transaksi barang ini meliputi ekspor barang, termasuk barang-barang yang bisa dilihat secara fisik, misalnya minyak, tembakau, tanah, kayu, karet, dan sebagainya. Ekspor barang merupakan transaksi kredit karena transaksi itu menimbulkan hak untuk menerima pembayaran (menyebabkan terjadinya aliran uang atau dana masuk ke dalam negeri). Impor barang meliputi barang-barang konsumsi, barang modal, dan bahan mentah untuk industri. Impor barang-barang merupakan transaksi debet karena menimbulkan kewajiban untuk melakukan pembayaran kepada negara lain (menyebabkan aliran dana atau uang ke luar negeri).
b.    Neraca Jasa
Sesuai dengan namanya, neraca jasa hanya mencatat transaksi-transaksi jasa saja. Neraca jasa meliputi transaksi ekspor dan impor jasa. Ekspor jasa meliputi penjualan jasa angkutan, turisme/pariwisata, asuransi, pendapatan investasi dan modal di luar negeri. Ekspor jasa termasuk transaksi kredit. Impor jasa meliputi pembelian jasa dari penduduk negara lain, termasuk pembayaran bunga, dividen atau keuntungan modal yang ditanam di dalam negeri oleh penduduk negara lain.
c.    Neraca modal
Neraca modal adalah neraca yang mencatat transaksi berupa investasi modal dan emas. Neraca modal (capital account) termasuk transaksi modal, terdiri dari transaksi jangka pendek dan transaksi jangka panjang.
d.    Lalu Lintas Moneter
Transaksi lalu lintas moneter adalah semua transaksi jual beli yang terjadi dari suatu negara ke luar negeri. Transaksi ini sering disebut accomodating transaction sebab merupakan transaksi yang timbul sebagai akibat dari adanya transaksi lain. Transaksi lain itu sering disebut dengan autonomous, karena timbul dengan sendirinya, tanpa dipengaruhi transaksi lain. Termasuk dalam transaksi autonomous adalah transaksi-transaksi yang sedang berjalan dan transaksi kapital serta transaksi satu arah.
e.    Surplus dan Defisit Neraca Pembayaran
Neraca perdagangan dikatakan surplus bila nilai ekspor barang lebih besar dari pada impornya. Kebijakan neraca pembayaran ditujukan untuk lebih meningkatkan penerimaan devisa dari ekspor guna memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Kebijakan tersebut ditujukan pula untuk menghemat devisa melalui substitusi impor dan memanfaatkan sumber-sumber dana dari luar negeri, baik berupa pinjaman maupun penanaman modal asing, serta menunjang perluasan kesempatan kerja dan pemerataan pembangunan.

2.    Sebutkan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kegiatan pariwisata terhadap Neraca Pembayaran suatu Negara?
·         Pariwisata menurunkan defisit yang dialami Negara
·         Pariwisata menurunkan surplus pembayaran Negara
·         Pariwisata menambah jumlah surplus neraca pembayaran Negara
·         Pariwisata menambah defisit yang dialami Negara

3.    Apa saran anda mengenai tindakan yang perlu diambil untuk mengurangi defisit Neraca Wisatawan?
Pemerintah pusat dan daerah – daerah  ODTW masing – masing harus bekerja sama untuk menarik wisatawan mancanegara untuk datang ke Indonesia dan mengurangi wisatawan local untuk pergi berwisata keluar negeri dengan cara memberikan sarana dan prasarana yang baik di daerah – daerah ODTW dan juga memberikan sosialisasi kepada penduduk disekitar daerah ODTW untuk pemberdayaan ekonomi agar terjadi kegiatan ekonomi yang berkesinambungan.
4.    Carilah masing-masing sebuah contoh dari Neraca Pembayaran dan atau Neraca Wisatawan, lalu buatlah pendapat atas neraca-neraca tersebut?

Pada table diatas kita dapat melihat bahwa telah terjadinya defisit dari tahun 2007 ke tahun 2008, pada tahun 2007, kita memiliki cadangan devisa sebesar 56.920 dan mengalami penurunan di tahun 2008 menjadi 51.011. Hal tersebut dikarenakan terjadinya defisit pada Transaksi Berjalan, Transaksi Modal dan Keuangan, dan  sebaliknya terjadinya surplus pada Net Errors and Omission, tetapi hasil tersebut tidak banyak membantu untuk menaikkan devisa perdagangan pada tahun 2008.